Cirebon, 29 Juli 2026 — Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Kegiatan Pendampingan Pembudayaan Hidup Sehat di Kota Cirebon selama dua hari, pada tanggal 28–29 Juli 2026. Kegiatan ini digelar dalam rangka meningkatkan efektivitas tata kelola serta memperkuat sistem monitoring pembudayaan hidup sehat di berbagai tatanan komunitas.
Hari Pertama: Sosialisasi Tata Kelola dan Penguatan Regulasi Germas

Pada hari pertama, dilaksanakan Sosialisasi Tata Kelola Pembudayaan Hidup Sehat di 5 Tatanan dan Penguatan Regulasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) Kabupaten/Kota. Pertemuan ini diikuti oleh unsur Dinas Kesehatan Kota Cirebon, lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, perwakilan perusahaan atau tempat kerja formal, serta seluruh Puskesmas se-Kota Cirebon.

Paparan pertama disampaikan oleh Kepala Bidang Kesehatan Primer dan Komunitas Dinas Kesehatan Kota Cirebon, dr. Lia Nurliana, MM, mengenai Situasi dan Kondisi Kesehatan di Kota Cirebon. Disampaikan bahwa secara keseluruhan Kota Cirebon memiliki fondasi kesehatan yang cukup baik, ditandai dengan cakupan fasilitas kesehatan yang memadai, capaian penanganan Penyakit Tidak Menular (PTM) tertentu yang cukup baik, serta capaian Perilaku Hidup Sehat (PHS) di atas 60%. Meski demikian, masih terdapat empat celah utama yang saling berkaitan, yaitu isu kesehatan ibu dan anak khususnya anemia dan stunting, kesenjangan gender dan wilayah dalam akses layanan kesehatan, perilaku berisiko seperti kebiasaan merokok, serta kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya mendukung mencakup akses air minum, sanitasi, dan pengawasan tempat kerja. Karena akar permasalahan tersebut bersifat lintas sektor, penyelesaiannya pun membutuhkan sinergi Bersama. Bukan hanya menjadi tugas Dinas Kesehatan dan Puskesmas, melainkan juga memerlukan peran aktif perusahaan/tempat kerja, masyarakat serta perangkat daerah dalam mewujudkan pembudayaan hidup sehat di Kota Cirebon.

Pertemuan dilanjutkan dengan paparan dari Ketua Tim Kerja Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Wini Nurwini, SKM., M.Si, mengenai Kebijakan dan Pelaksanaan Survei Perilaku Hidup Sehat Tingkat Puskesmas. Disampaikan bahwa potret kesehatan masyarakat masih menunjukkan sejumlah tantangan yang perlu perhatian bersama, mulai dari belum tercapainya target prevalensi stunting dan wasting pada balita, menurunnya proporsi masyarakat yang beraktivitas fisik cukup (66,5% menjadi 62,6%), angka anemia pada remaja putri yang mencapai 16,68% dan Kurang Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil sebesar 7,42%, hingga risiko stunting yang meningkat akibat sanitasi buruk, meskipun Angka Kematian Ibu (AKI) menunjukkan tren perbaikan dari 749 kasus (2024) menjadi 646 kasus (2025).

Menjawab tantangan tersebut, pembudayaan hidup sehat ditegaskan sebagai prioritas dalam RPJPN 2025–2045 dan RPJMN 2025–2029, yang diimplementasikan melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) berbasis lima pilar Ottawa Charter di berbagai tatanan seperti rumah tangga/posyandu, sekolah, dan tempat kerja formal maupun informal. Sejalan dengan itu, istilah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang sebelumnya berbasis rumah tangga kini digantikan dengan Perilaku Hidup Sehat (PHS) yang menyeragamkan 6 indikator untuk seluruh tatanan (aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayur, cuci tangan yang benar, tidak merokok, cek tekanan darah, dan cek gula darah) dengan sasaran pendataan berbasis individu serta pendekatan edukasi dua arah (Komunikasi Antar Pribadi). Pada akhirnya, keberhasilan pembudayaan hidup sehat ini bergantung pada kolaborasi lintas sektor dan pelibatan mitra kesehatan.
Hari Kedua: Peninjauan Lapangan ke Tatanan Institusi Pendidikan dan Tempat Kerja Formal
Pada hari kedua, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan lapangan ke dua tatanan, yaitu tatanan institusi pendidikan di SMP Negeri 7 Kota Cirebon dan tatanan tempat kerja formal di PT. Pan Putra Samudra. Peninjauan ini bertujuan untuk melihat langsung penerapan pembudayaan hidup sehat di lapangan sekaligus memperkuat sinergi antara sektor kesehatan dengan sektor pendidikan dan dunia usaha.


Dalam kegiatan tersebut, Dinas Kesehatan mendorong penggalakan Gerakan Minum Tablet Tambah Darah (TTD) Bersama di tatanan institusi pendidikan maupun bagi karyawan perempuan di tempat kerja formal, sebagai langkah konkret untuk mendukung upaya pencegahan anemia sejak dini. Langkah ini sejalan dengan temuan yang disampaikan pada hari pertama, bahwa anemia dan stunting masih menjadi salah satu celah kesehatan yang perlu mendapat perhatian bersama di Kota Cirebon, sementara pada kelompok usia produktif yang bekerja, anemia berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan sekaligus produktivitas kerja sehari-hari. Melalui gerakan ini, diharapkan risiko anemia dapat dicegah lebih dini pada peserta didik, khususnya remaja putri, sekaligus menjadi bentuk nyata dukungan perusahaan terhadap pembudayaan hidup sehat, dengan kolaborasi antara Dinas Kesehatan, institusi pendidikan, dan tempat kerja formal untuk memastikan gerakan ini berjalan berkelanjutan sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehat sehari-hari.
Melalui kegiatan pendampingan ini, diharapkan tata kelola pembudayaan hidup sehat di Kota Cirebon dapat semakin terarah, regulasi Germas di tingkat kota semakin diperkuat, dan kolaborasi lintas sektor dapat terus berjalan demi mewujudkan masyarakat Kota Cirebon yang lebih sehat.


