Sejarah Dinas Kesehatan Kota Cirebon

Kota Cirebon merupakan salah satu dari 22 Kabupate/Kota di Provinsi Jawa Barat yang terletak di pantai utara Provinsi Jawa Barat bagian timur. Secara geografis Kota Cirebon terletak pada posisi 108,33º dan 6,41º Lintang Selatan pada pantai utara pulau Jawa dengan ketinggian 5 m dari permukaan laut. Luas wilayah administrasi ±37,35 Km². Kota Cirebon beriklim Tropis dengan suhu udara berkisar antara 24ºC – 33ºC, adapun batas wilayah Kota Cirebon:

– Sebelah Utara : Sungai Kedung Pane

– Sebelah Barat : Banjir Kanal / Kab. Cirebon

– Sebelah Timur : Laut Jawa

– Sebelah Selatan : Sungai Kalijaga

Selintas sejarah Kantor Dinas Kesehatan Kota (DKK) Cirebon yang bertempat di Jl. Kesambi No. 52, sebelumnya merupakan Poliklinik yang berpindah-pindah tempat sebelum menata di Jl. Kesambi. Poliklinik pertama yaitu di Kejaksan kemudian di belakang BAT, Kalibaru, terakhir di Jalan Kesambi sampai sekarang.

DKK Cirebon didirikan pada tanggal 16 Juni 1952 yang pada saat itu bernama Dokares ( Dokter Kesehatan Karesidenan ) dan disebut juga Palang Hijau. Baru pada tahun 1963 Dokares diganti menjadi DKK (Dinas Kesehatan Kotamadya) Cirebon. Kemudian pada tahun 2000 hingga sekarang huruf K (pada singkatan DKK) yang kedua diubah dari “Kotamadya” menjadi “Kota”.

Pimpinan / Kepala DKK Cirebon dari pertama sampai sekarang:

  1. Bpk. Dr. Ruslan Abdulgani manjabat dari tahun 1952 – 1971
  2. Bpk. Dr. H. Abi Kusno maenjabat dari tahun 1971 – 1975
  3. Bpk. Dr. H. Vuad Bapadal menjabat dari tahun 1975 – 1982
  4. Bpk. Dr. Anggara Arahim menjabat dari tahun 1982 – 1988
  5. Bpk. Dr. Vuad Bapadal menjabat dari tahun 1988 – 1991
  6. Bpk. Dr. Supardi Garniwa menjabat dari tahun 1991 – 1995
  7. Bpk. Dr. Sugianto menjabat dari tahun 1995 – 2000
  8. Bpk. Drg. H. Sudiono Munada, M.Kes. menjabat dari tahun 2000 – 2008
  9. Ibu. Dr. Hj. Kaptiningsih , M.Kes menjabat dari tahun 2008-2010
  10. Bpk. Dr. H. Edy Sugiarto , M.Kes menjabat dari tahun 2010-sekarang

 

Tupoksi Dinas Kesehatan Kota Cirebon terdapat dalam  Peraturan Wali Kota Cirebon Nomor 47 Tahun 2016

Tupoksi UPT pada Dinas Kesehatan Kota Cirebon terdapat dalam Peraturan Wali Kota Cirebon Nomor 68 Tahun 2016

Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kota Cirebon Tahun 2016

Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kota Cirebon

Peraturan Perundang-Undangan di Kota Cirebon http://hukum.cirebonkota.go.id

 

edited by Mohammad Syukri 08975903006

Kota Cirebon Raih Swasti Saba Wistara

Pemerintah Daerah Kota Cirebon mendapatkan penghargaan Swasti Saba Wistara dari pemerintah pusat. Penghargaan ini merupakan penghargaan tertinggi di bidang kesehatan. Atas capaian tersebut, Walikota Cirebon, H.Nashrudin Azis meminta derajat kesehatan warga Kota Cirebon terus ditingkatkan.

“Yang terpenting yaitu bagaimana agar masyarakat Kota Cirebon bisa mempertahankan derajat kesehatannya,” ungkap Azis, Selasa (19/11/2019).

Dijelaskan Azis, dengan mendapatkan penghargaan tertinggi di bidang kesehatan tersebut, hal ini membuktikan jika masyarakat Kota Cirebon telah mampu menerapkan pola hidup sehat baik diri sendiri, keluarga dan lingkungannya.

“Masyarakat Kota Cirebon sudah mengerti bagaimana menjaga perilaku hidup sehat,” ungkap Azis.

Namun itu saja menurut Azis tidak cukup. Karena yang terpenting yaitu bagaimana agar pola hidup sehat bisa diterapkan terus menerus.

“Dinas terkait tidak boleh berpuas diri. Justru mereka harus terus melakukan berbagai terobosan untuk bisa meningkatkan pola hidup sehat masyarakat Kota Cirebon. MMasyarakat juga diminta ikut serta berperan dalam berbagai program yang akan meningkatkan derajat kesehatan mereka,” ujarnya.

Swasti Saba Wistara merupakan penghargaan tertinggi di bidang kesehatan lingkungan yang diberikan kepada kota dan kabupaten di Indonesia. Tatanan yang dinilai di antaranya tatanan pemukiman, sarana dan prasarana umum, tertib lalu lintas, pelayanan transportasi, industri dan perkantoran sehat, pariwisata sehat, pangan dan gizi, kehidupan masyarakat sehat dan mandiri serta sosial yang sehat.

Penghargaan Swasti Saba Wistara diberikan langsung oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Pada kesempatan itu, Tito mengungkapkan jika kesehatan merupakan aspek sentral dalam pembangunan.

“Dalam lima program prioritas nasional, poin nya ada pada pembangunan kualitas sumber daya manusia. Pembangunan sumber daya manusia ini selain ditopang oleh aspek pendidikan formal dan non formal juga ditunjang dengan aspek kesehatan. Bagaimana mungkin membentuk SDM yang unggul dan terampil jika sumber daya manusianya tidak sehat, baik fisik, mental maupun spiritual,” tegas Tito.

Selain itu, Tito juga berpesan kepada kepala daerah untuk memiliki leadership, kemauan dan kemampuan yang mumpuni untuk mengelola kabupaten maupun kotanya menjadi lebih sehat dan lebih ramah untuk masyarakatnya.

sumber : http://www.kabarcirebon.co.id/2019/11/pemda-kota-cirebon-raih-swasti-saba-wistara/

PSC 119 KOTA CIREBON ‘SREGEP’ Jadi Salah Satu dari Para Jawara IndoHCF Innovation Awards III-2019

TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG – Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF), sebuah program CSR dari PT IDS Medical Systems Indonesia, kembali digelar di ICE BSD, Tangerang, bersamaan dengan perayaan Hari Kesehatan Nasional yang dihadiri Menteri Kesehatan Dokter Terawan dan dua mantan menkes serta Gubernur DKI Anies Baswedan, Sabtu (9/11/2019).

Ajang ini menetapkan juara 1, 2, dan 3 IndoHCF Innovation Awards III-2019 dari empat kategori yang dikonteskan.

Di kategori Inovasi Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT), penghargaan
Platinum Award masing-masing dimenangi oleh Pos PSC 119 SIMPATIK (Sistem Pelayanan Cepat Emergency Medik) dari Kabupaten Bangka, Provinsi Kep. Bangka Belitung dan BESQUIT (Bandung Emergency Service Quality Innovation ) dari Bandung.

Penghargaan Gold Award kategori ini dimenangi oleh SIGAP (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Publik) PSC 119 Bantul, Yogyakarta dan PSC 119 Kota Cirebon, ‘Sregep’ sistem respon emergency Kota Cirebon, Jawa Barat.

Sedangkan di kategori Inovasi Program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), pada sub kategori Program UKM, penghargaan Platinum Award dimenangi kader kesehatan 211 (2
Orang 1 Program Untuk 1 RT/Dusun) Menuju Rejang Lebong Sehat 2021 dari Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu dan Gebrakan Pagi Berseri (PAGelaran aksI BERsama Sekolah sEhat
asRI) Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Penghargaan Gold Award  kategori ini dimenangi oleh Kampung Cerdik dari Kabupaten
Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, serta Pepes Ikan Patin (Penyebaran Pesan
Informasi Kesehatan Pangan Aman Dan Depot Air Minum) dari Bontang, Kalimantan Timur.

Pemenang pada kategori Inovasi Alat Kesehatan, terbaik pertama diraih Penggunaan Fiksasi Pelvis Modifikasi C-Clamp Sistem UI-CM dalam Meningkatkan Clinical Service
dari Departemen Medik Orthopaedi dan Traumatologi RSCM-FKUI Kota Administrasi Jakarta
Pusat, Provinsi DKI Jakarta.

Terbaik kedua dan ketiga masing-masing diraih Gamma Allergen dan Gamma Chamber: sebagai solusi penyediaan alat diagnostik uji tempel di Indonesia dari Departemen Dermatologi dan Venereologi Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Kota Yogyakarta, Provinsi DI Yogyakarta dan Sardjito Vac (Vacuum Assisted Closure) dari RSUP Dr Sardjito Kota Yogyakarta, DIY.

Di kategori Inovasi ICT Kesehatan terbaik pertama, ditempati e-Simpati
dari RSUD Jagakarsa, Jakarta Selatan, terbaik kedua Pemanfaatan
Aplikasi “Sayang Bunda” dalam Upaya Penurunan Kematian Ibu dari Dinas Kesehatan Kota
Semarang, dan terbaik ketiga Sistim Informasi Manajemen Remunerasi
Terintegrasi dari RSUD Koja, Jakarta Utara.

Selain empat kategori diatas, IndoHCF juga memberikan penghargaan bagi Juara Favorit yang dipilih netizen di platform Facebook dengan metode like terbanyak yang jatuh kepada POS PSC 119 Simpatik dari Kabupaten Bangka dengan total like sebanyak 1.564.

Sedangkan, artikel inovasi kesehatan terbaik kepada Desi Purnawamati dari LKBN Antara kategori Media Online dan Kristanto dari Rakyat Merdeka kategori Media Cetak.

Penghargaan lainnya, yakni kategori Inovasi ICT Kesehatan Sub Kategori Potential Newbie, terbaik pertama diraihLearning Platform For Healthcare (Avvecena) asal DKI
Jakarta, terbaik kedua oleh KakiDiabet Indonesia dari Jawa Timu, dan terbaik ketiga
Medical AI asal Jawa Tengah.

Tim juri yang melakukan penilaian berasal dari instansi dan asosiasi kesehatan antara
lain Kementerian Kesehatan RI, Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI), Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Perhimpunan Kedokteran Gawat Darurat Indonesia (PKGDI) dan Perkumpulan Promotor & Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI) dan lain-lain.

Ketua Umum IndoHCF, Dr. dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS mengatakan, era revolusi industri 4.0 melalui big data, artificial intelligence, ‘robotics’ dan internet of things memberikan tantangan nyata yang tidak mudah di sektor kesehatan sehingga butuh inovasi teknologi untuk menunjang kualitas pelayanan kesehatan.

“Digitalisasi sudah masuk ke seluruh lini kehidupan masyarakat. Tentunya untuk sektor pelayanan kesehatan yang lebih baik kita perlu berbagai macam inovasi kesehatan dengan suntikan teknologi terbaik,” ungkap Supriyanto.

Menurut dia, pesatnya perkembangan inovasi di bidang kesehatan akan mengurangi ketergantuan Indonesia terhadap produk kesehatan asal luar negeri, mulai dari peralatan di rumah sakit hingga obat-obatan yang dikonsumsi masyarakat.

Dengan demikian layanan kesehatan masyarakat dapat diperoleh dengan mudah dan murah serta penanganan pasien lebih berkualitas.

Sementara itu, CEO Aplikasi kesehatan online HaloDoc, Jonathan Sudharta mengatakan
keterlibatan Halodoc pada event ini merupakan bentuk dukungan Halodoc untuk Indonesia yang lebih sehat melalui pemanfaatan teknologi.

Sebagai mitra IndoHCF Innovation Award 2019, HaloDoc juga menggandeng beberapa investor untuk dipertemukan dengan peserta IndoHCF, khususnya untuk kategori Inovasi ICT Kesehata, sub kategori Potential Newbie.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Inilah Para Jawara IndoHCF Innovation Awards III-2019, https://www.tribunnews.com/kesehatan/2019/11/09/inilah-para-jawara-indohcf-innovation-awards-iii-2019.

Editor: Choirul Arifin

SINERGITAS PENCAPAIAN UHC PROGRAM JKN & KIS KOTA CIREBON

Dikarenakan masih terdapat Penduduk yang didaftarkan sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) JK tetapi tidak masuk dalam Data Terpadu sesuai SK Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2019. Maka dilakukanlah pada acara ini, dilakukanlah upaya untuk memastikan seluruh peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) JK yang di daftarkan dalam program JKN-KIS telah terdaftar dalam Data Terpadu yang ditetapkan Menteri Sosial.

Mengapa Kita harus menjadi peserta JKN/KIS ?

Dikarenakan adanya,

PERLINDUNGAN ; Program JKN-KIS bertujuan memberikan perlindungan baik untuk diri sendiri, keluarga maupun orang lain untuk mendapatkan kepastian jaminan kesehatan sehingga diharapkan bisa meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan

GOTONG ROYONG ; Dengan menjadi peserta Program JKN-KIS, maka setiap peserta yang sehat akan bergotong royong membantu peserta yang sakit. Apabila taat membayar iuran tepat waktu dan menjaga kesehatan, maka dalam diri tiap-tiap orang tertanam rasa kepedulian terhadap sesama terutama yang mendapat musibah berupa sakit.

PATUH; Adanya kepatuhan dari setiap Warga Negara Indonesia terhadap perundang-undangan untuk mendaftarkan dirinya dan anggota keluarga menjadi peserta Program JKN-KIS serta mengikuti prosedur pelayanan kesehatan yang berlaku.

Apa itu JKN & BPJS Kesehatan ?

– JKN adalah : Jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan dan perlindungan kesehatan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah.

– BPJS Kesehatan adalah : Badan hukum publik yang dibentuk pemerintah (bertanggung jawab langsung kepada Presiden) untuk menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan Nasional mulai 1 Januari 2014.

Lalu siapa saja peserta JKN & BPJS Kesehatan ?

• Penerima Bantuan Iuran (PBI)

• PBI APBN -> fakir miskin dan orang tidak mampu yang iurannya dibayar oleh Pemerintah Pusat

• Penduduk yang didaftarkan dan dibayarkan iurannya oleh Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota

• Bukan Penerima Bantuan Iuran

• Pekerja Penerima Upah (PNS, TNI/POLRI Karyawan Swasta) yang iurannya dibayarkan oleh Pemberi Kerja dan Pekerja

• Pekerja Bukan Penerima Upah (Petani, Nelayan, Pedagang) yang iurannya dibayar oleh yang bersangkutan secara rutin setiap bulan

• Bukan Pekerja (Pensiunan) yang iurannya dibayar oleh Pemerintah atau oleh yang bersangkutan secara rutin setiap bulan

Lalu,Berapa Jumlah Peserta JKN & KIS ?

Berapa Banyak yang Menggunakan Kartu JKN & KIS ?

Lalu,bagaimana cara daftar menjadi peserta JKN & KIS ?

cukup mudah, di bawah ini akan di jelaskan cara pendaftaran menjadi peserta JKN & KIS

PBI APBN

• Masyarakat tidak perlu mendaftar

• Pendaftaran dilakukan melalui pendataan oleh Kementerian Sosial/Dinas Sosial sesuai kriteria yang telah ditentukan , selanjutnya ditetapkan melalui Keputusan Menteri Sosial dan didaftarkan oleh Kementerian Kesehatan

PBI APBD

• Masyarakat tidak perlu mendaftar

• Pendaftaran dilakukan melalui pendataan oleh Dinas Sosial/Dinas yang ditunjuk oleh Pemda, selanjutnya ditetapkan melalui Keputusan Bupati.

PEKERJA PENERIMA UPAH

• Didaftarkan oleh perusahaan/ kantor tempat bekerja

• Menanggung istri/suami dan 3 orang anak.

PESERTA MANDIRI

• Mendaftar secara perorangan untuk seluruh anggota keluarga sesuai Kartu Keluarga ke Kantor BPJS Kesehatan maupun melalui Layanan Keliling Mobile Customer Service

• Cukup dengan menunjukkan KTP dan Kartu Keluarga asli dan fotokopi buku rekening tabungan BRI/BNI/Mandiri/BCA.

Cakupan JKN-KIS Kota Cirebon 01 November 2017

Jumlah Penduduk : 324.79

Jumlah Penduduk Yang Terdaftar JKN : 320.362

Jumlah Penduduk yang Belum Terdaftar JKN : 4.432

Total data yang masuk (%) adalah 90%

KEPESERTAAN JKN-KIS KOTA CIREBON TAHUN 2019

Total Kepesertaan S.D 31 Des 2018 sebanyak 326.647 jiwa

Pencapaian UHC (%) 99,50%

Jumlah Penduduk Tahun 2018 328.239 jiwa

Peserta Jumlah Yang Menunggak 16.766 jiwa

Pelayanan Apa Saja yang Dijamin Saat Berobat di Puskesmas ?

1. Rawat Jalan

Konsultasi, pemeriksaan, pemeriksaan penunjang diagnostik, tindakan, obat dan bahan habis pakai.

2. Rawat Inap

Akomodasi, pemeriksaan dokter, pemeriksaan penunjang diagnostik , obat dan bahan habis pakai.

3. Pelayanan Gigi

Pengobatan, tambal, cabut, pembersihan karang gigi ( 1x/th), gigi palsu

4. Keluarga Berencana

Pelayanan Keluarga Berencana, termasuk pemasangan alat kontrasepsi dan penanganan efek sampingnya*

5. Kesehatan Ibu dan Anak

Pemeriksaan kehamilan & nifas, persalinan, imunisasi bayi

6. Prolanis

Diabetes Mellitus Tipe 2 dan Hipertensi

7. Program Rujuk Balik

Untuk 9 jenis penyakit yang ditetapkan Kemenkes

8. Ambulan

Antar fasilitas kesehatan

9. Deteksi Dini

Skrining Riwayat Kesehatan, SADARI, Papsmear/IVA

Pelayanan Apa Saja yang Dijamin Saat Berobat di Rumah Sakit ?

Rawat jalan

Konsultasi dan pemeriksaan dokter spesialis, pemeriksaan penunjang diagnostik, tindakan, obat dan bahan habis pakai.

Rawat Inap

Akomodasi sesuai hak kelas rawat, pemeriksaan dokter, pemeriksaan penunjang diagnostik, tindakan, obat dan bahan habis pakai.

Obat

– Sesuai Formularium Obat Nasional ( paket INA CBG’s)

– Obat di luar Paket INA CBGs (Kanker, Hemofilia, thallasemia, obat kronis)

Alat Kesehatan

Kacamata, alat bantu dengar, tangan dan kaki palsu, gigi palsu, korset tulang belakang, kruk penyangga tubuh dan penyangga leher

Ambulan

Antar Fasilitas Kesehatan

Dalam rangka meningkatkan dan mempertahankan kesehatan masyarakat terkait jaminan pembiayaan, Data PBI JK NON AKTIF sejumlah 10.591 jiwa karena tidak masuk BDT setelah dilakukan Verifikasi dan Validasi Data Oleh Dinas Sosial, untuk kemudian hasilnya diusulkan kembali sebagai peserta PBI APBN.

Scroll to top